Translate

16 Mar 2017

Satria Piningit Di Mata Saya



Ronggowarsito adalah spiritualis indonesia yang sangat ternama karena ramalannya banyak yang sudah terbukti. Dipaparkan ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit (Negara Indonesia), yaitu: Satrio Kinunjoro Murwa Kuncara, Satria Mukti Wibawa Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumela Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :

Satriyo Kinunjoro Murwo Kuncara diperkirakan adalah PRESIDEN SOEKARNO. Sedangkan Satrio Mukti Wibowo Kesandhung Kesampar diperkirakan adalah presiden SOEHARTO. Satrio Jinumput Sumelo Atur yaitu BJ HABIEBIE. Untuk Satrio Lelono Topo Ngrame yaitu Abdurrohman Wahid. Sedangkan untuk Satrio Piningit Hamong Tuwuh yaitu Ibu MEGAWATI dan presiden sekrang SBY diperkirakan merupakan Satria Boyong Pambukaning Gapura. Lalu siapa Satrio Pinandhita Sinisihan Wahyu? Itu masih teka-teki bersama. Namun demikian saya berusaha membahas sedikit berkenaan dengan hal tersebut.

Banyak yang mengartikan demikian: 

SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum/petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.

Kembali kepada diri kalau saya mengartikan. Baik itu diri secara universal (negara) maupun diri dalam pengertian lingkup kecil (diri sendiri). Siapa sih sebenarnya satria itu? Satria adalah orang yang selalu berpikir demi kebersamaan, sikap sosialnya tinggi, jiwa pluralnya juga tinggi. Contoh Arjuna dalam wayang, apakah dia membedakan siapa lawan dan siapa kawan? Karena ternyata lawannya adalah saudaranya sendiri. Arjunapun bilang tak sanggup melawan dan membunuh Kurawa (BAGAWAT GITA), itu simbol jiwa sosialnya, nurani kemanusiaan yang tinggi. Arjuna juga bersahabat dengan hamba sahaya (PUNAKAWAN), apakah mereka diperlakukan berbeda? TIDAK sama sekali, cenderung punakawan digunakan sebagai penasehat nurani dan jiwa.

Pandhita juga orang yang mumpuni dalam hubungan horisontal dan vertikal. Dalam segala kebijakan dibutuhkan nurani, bukan karena kekuasaan ataupun uang. Aku jadi teringat film tentang hukum dari Amerika, dimana ada seorang pengacara yang bisa menyelamatkan orang kulit hitam Afrika yang telah menembak mati orang Amerika. Padahal itu seharusnya hukuman mati, kenapa bisa bebas? karena memang orang Afrika itu tidak salah meskipun membunuh, tetapi demi sebuah nasib, yaitu NURANI, atau hak asasi, hak yang paling mendasar bagi manusia. Pandita bukan saja ahli dalam agama, melainkan ahli dalam menempatkan diri baik itu disegala ruang dan waktu. Bisa membedakan mana kerjaan dan mana keluarga. Tidak pandang bulu dan tidak memihak hanya lantaran ada kolusi atau nipotis.

Sinisihan Wahyu artinya, dia berdasarkan atau bersama sebuah kebenaran. Apa itu kebenaran? Kebenaran yang memperjuangkan hak manusia secara utuh. Apa saja kebutuhan manusia dalam bernegara? Jelas kesamaan perilaku dan persamaan hukum. Tidak ada nipotis, kolusi, koalisi atau istilah apapun yang memungkinkan berpihak pada sebuah golongan atau komunitas. Pada dasarnya manusia itu FREE alias bebas, tidak ada ikatan. Itu yang perlu digaris bawahi. Demi keberlangsungan bersama maka free tersebut dibatasi oleh sebuah aturan kenegaraan yang seharusnya masih berpijak pada asasi manusia ini. Sehingga kebijakan hukum tidak berpihak tetapi memang selaras dengan kebersamaan. Interaksi bukan berarti koalisi atau kolusi, tetapi itu syarat untuk menjalin sebuah keselarasan dan keseimbangan alam.

Satriya Piningit Di Mata Saya

Saya beranggapan bahwa di tiap manusia adalah kholifah atau utusan atau apa sajalah yang mau mengartikan. Berarti tiada berbeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Andaikan aku ganti kata kholifah menjadi seorang satriya, berarti kita semua adalah seorang satriya. Satriya yang selama ini kita nanti-nanti, atau lebih umumnya dinantikan oleh banyak orang, atau lebih khususnya dinantikan oleh golongan tertentu. Menurut saya sama saja, toh semua itu adalah sebuah cita-cita, harapan, ilusi dan perlu sebuah instrument untuk mengaplikasikannya.

Kenapa harus piningit? Kan kita bisa melihat realitas kita sendiri? Melihat diri kita sendiri, melihat aktifitas kita sendiri? Siapa bilang? Mayoritas dari kita telah terkontaminasi dan ikut arus, serta gelombang, dan akhirnya oleh arus tersebut dicoba untuk dimasukkan dalam sebuah lautan yang sama. Intinya kita sekarang ini seperti domba-domba, seperti piaraan, seperti sebuah rombongan yang dikuasai oleh oknum-oknum tertentu yang mencoba membuat kita terbuai dan terlena sehingga kita mabuk kepayang dan tak sadarkan diri. Makanya oleh Ranggawarsita di istilahkan dengan kata “Piningit”, artinya disembunyikan. Jiwa-jiwa kita, realitas kesadaran kitalah yang di sembunyikan oleh arus gelombang yang dicipta oleh segelintir kita. Bahkan opini-opini kita juga terbawa arus kesana, dan kita harus berjuang mati-matian atau bahkan sampai mati tidak sadarkan diri bahwa kita telah terbawa arus.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, siapa yang lebih bertanggungjawab atas tiap diri kita sendiri? Orang tua kitakah? Penjual Koran? Sopir Angkot? Seorang masinis? Atau pilot sekalipun? Bukankah rasa ketakutan juga kita mempercayakan nyawa kepada seorang pilotpun, buktinya masih ada yang ngikut jasa raharja. Artinya nasib kita, hidup kita, kaya kita, miskin kita, berhasil kita, terjerumus kita dan lain sebagainya adalah tanggungjawab kita sendiri. Bukan pada orang lain, bahkan orang tua kita sendiripun.

Lalu apa yang harus kita perbuat? Pertanyaan ini sifatnya sangat individual sekali, mendalam bagi tiap-tiap individu, tentu saja jawabanya berbeda-beda, mengingat latar belakang budaya berbeda, jumlah penghasilan berbeda, mata pencaharian berbeda, cara berfikir berbeda, dan banyak hal lainnya. Namun demikian tetap saja ada yang sama dalam hal kwajiban, kalau menurut saya sendiri sih kita sesama manusia wajib saling membantu, menolong, membuat orang lain bahagia bersama kita, tidak merasa terancam, tidak merasa takut, membuatnya tertawa, membuatnya mesra. Iya jalinan yang mesra inilah suatu kunci dalam berhubungan. Sebagaimana semut yang bekerja giat namun dalam bekerjanya selalu bersapa, jarang ada semut ketemu temannya sebangsa semut yang satu ras kok belok jalan.

Untuk mewujudkan semua itu perlu adanya sebuah perjuangan. Perjuangan untuk siapa? Ya untuk masing-masing individu dengan kapasitasnya yang berbeda-beda, tidak bisa digebyah uyah atau disamakan. Berjuang memperjuangkan keselarasan, keserasian. Dan yang terakhir Ranggawarsita bilang tentang kembali ke Wahyu artinya memahami kembali sirkulasi kehidupan, keseluruhan semesta. Bukannya Wahyu itu turun untuk memayu hayuning buwana, buwana alit dan buwana besar, bukan buwana penjual sayur.

Tanpa kita semua berharap semua tidak akan pernah kesampaian. Semua hanya akan jadi impian dan ilusi. Satria piningit adalah jiwa kita, nurani kita, roh kita, jiwa kita semua, tiap individu. JIka ditarik dalam kawasan yang lebih luas adalah kembali ke dasar negara kita PANCASILA. Jika itu memang pegangan bersama dan diimani bersama. Iman artinya, mengucap, membenarkan dan merealisasikan. Kebangkitan satria ini tidak usah dinanti, ayo kita mulai dari diri sendiri, dan lingkungan. Berbenah dan berbenah.

Gambar di ambil dari Google dengan kata kunci Satria Piningit.
Tulisan ini juga akan saya terbitkan di https://gangsaran.blogspot.co.id dengan judul Satria Piningit Di Mata Saya.




Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Informasi

Jadwal Pentas